Posted by : Anak Bawang Thursday, 25 July 2013


Pengertian dan Sejarah Engklek

Sunda manda atau juga disebut éngklék, téklék, ingkling, sundamanda / sundah-mandah, jlong jling, lempeng, pacih, Jangkar Bumi, atau dampu adalah permainan anak tradisional yang populer di Indonesia, khususnya di masyarakat pedesaan.

Permainan ini dapat ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia, di Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan dan Sulawesi dengan nama yang berbeda-beda tentunya. Nama-nama untuk permainan Engklek  atau dalam bahasa Inggris ”Hopscotch”, antara lain Engklek (Jawa ), Asinan, Gala Asin (Kalimantan),  Intingan (Sampit),   Tengge-tengge (Gorontalo),  Cak Lingking (Bangka), Dengkleng, Teprok   (Bali),  Gili-gili (Merauke),  Deprok (Betawi),   Gedrik (Banyuwangi),  Bak-baan, engkle (Lamongan),  Bendang (Lumajang), Engkleng (Pacitan), Sonda (Mojokerto), Tepok Gunung (Jawa Barat), dan masih banyak lagi nama yang lain.

Permainan Sunda manda biasanya dimainkan oleh anak-anak, dengan dua sampai lima orang peserta. Di Jawa, permainan ini disebut engklek dan biasanya dimainkan oleh anak-anak perempuan. Permainan yang serupa dengan peraturan berbeda di Britania Raya disebut dengan hopscotch. Permainan hopscotch tersebut diduga sangat tua dan dimulai dari zaman Kekaisaran Romawi.

Permainan ini mengejawantahkan usaha anak untuk membangun “rumah”-nya. Atau bisa pula bermakna sebagai perjuangan manusia dalam meraih wilayah kekuasaannya. Namun bukan dengan saling sruduk. Ada aturan tertentu yang harus disepakati untuk mendapatkan tempat berpinjak.

Menurut Dr. Smpuck Hur Gronje, permainan ini berasal dari Hindustan. Lalu engklek ini diperkenalkan ke Indonesia. Oleh karena itu, hampir engklek dikenal di setiap Provinsi di Indonesia walaupun dengan nama yang berbeda.

Pendapat lain mengatakan bahwa Permainan Engklek ini menyebar pada zaman kolonial Belanda dengan latar belakang cerita perebutan petak sawah. Yang diduga bahwa nama permainan ini berasal dari "zondag-maandag" yang berasal dari Belanda yang berarti Sunday manday dan menyebar ke nusantara pada zaman kolonial, walaupun dugaan tersebut adalah pendapat sementara.

Manfaat
  1.  Melatih motorik kasar. Perkembangan saraf motorik kasar yang baik akan membantu anak-anak untuk lebih aktif, daya tahan tubuh lebih kuat, serta memiliki tubuh yang lentur.
  2. Olah raga yang baik adalah yang mengandung unsure bermain. Engklek juga mengajak anak anak untuk berolahraga sambil bermain.
  3. menurut psikolog Anna Surti Ariani, SPsi, MSi, bermain merupakan salah satu cara anak untuk belajar. "Dengan bermain anak-anak bisa mengenali berbagai kondisi lingkungan di sekitarnya, dan juga belajar berbagai macam hal, termasuk sosialisasi,"

Cara Memainkan engklek Gunung
  1. Pertama kali yang harus dilakukan sebelum melakukan permainan engklek adalah menggambar bidang engklek terlebih dahulu.
  2. Kemudian pemain harus melakukan hompimpah untuk menentukan urutan siapa yang jalan terlebih dahulu. Hompimpah disini harus ditentukan yang berbeda pertama jalan pertama atau jalan terakhir. Tapi biasanya dalam hompimpa yang paling berbeda jalan terlebih dahulu begitu seterusnya. Hal ini dilakukan jika pemain lebih dari dua orang. Jika dua orang dilakukan suit.
  3. Untuk dapat bermain, setiap anak harus mempunyai kereweng / gacuk / buah / yang biasanya berupa pecahan genting, keramik lantai, ataupun batu yang datar
  4. Para pemain harus melompat dengan menggunakan satu kaki di setiap kotak-kotak / petak-petak yang telah digambarkan sebelumnya di tanah.
  5. Kereweng/gacuk dilempar ke salah satu petak yang tergambar di tanah, petak dengan gacuk yang sudah berada diatasnya tidak boleh diinjak/ditempati oleh setiap pemain, jadi para pemain harus melompat ke petak berikutnya dengan satu kaki mengelilingi petak-petak yang ada.
  6. Pemain tidak diperbolehkan untuk melemparkan kereweng/gacuk  hingga melebihi kotak  atau petak yang telah disediakan. Jika ada pemain yang melakukan kesalahan tersebut maka pemain tersebut akan dinyatakan gugur dan diganti dengan pemain selanjutnya.
  7. Pemain yang menyelesaikan satu putaran sampai di puncak gunung, mengambil kereweng /gajuk dengan membelakangi gunung dan menutup mata, tidak boleh menyentuh garis juga. Apabila pemain tersebut menyentuh garis/ terjatuh saat mengambil kerewengnya maka dia mati dan digantikan pemain selanjutnya.
  8. Apabila pemain berhasil mengambil gajuk di gunung, maka dia harus melemparkannya keluar dari bidang engklek. Kemudian pemain tersebut engklek sesuai dengan kotak dan diakhiri dengan berpijak pada gajuk/kereweng yang dilemparkan tadi.
  9. Selanjutnya apabila berhasil pemain lanjut ke tahap mencari sawah dengan cara, menjagling kereweng/gajuk dengan telapak tangan bolak-balik sebanyak 5 kali tanpa terjatuh. Hal ini dilakukan dalam posisi berjongkok membelakangi bidang engklek dan berada di tempat jatuhnya kereweng yang tadi di lempar. Setelah berhasil menjagling sebanyak 5 kali pemain masih dalam posisi yang sama melemparkan ke bidang engklek, apabila tepat pada salah satu bidang engklek maka bidang tersebut menjadi sawah pemain. Dan apabila gagal pemain mengulangi kembali dari gunung.
  10. Pemain yang memiliki sawah paling banyak adalah pemenangnya.

{ 9 comments... read them below or Comment }

  1. Lestarikan permainan tradisional..semoga anak-anak generasi bangsa selalu mencintai budaya bangsa sendiri..sukses selalu anak bawang solo..salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. siap. semoga permainan tradisional semakin lestari.

      Delete
  2. saya tertarik untuk membaca tulisan anda mengenai permainan tradisional engklek ini. semoga masih banyak anak-anak yang mau memainkan permainan ini.

    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis yang bisa anda kunjungi di Informasi Seputar pariwisata

    ReplyDelete
  3. makasih informasinya yaa..
    <a href='http://st3telkom.ac.id/">ST3 Telkom</a>

    ReplyDelete
  4. 👍 semoga permainan tradisional ini tetap dilestarikan

    ReplyDelete
  5. 👍 semoga permainan tradisional ini tetap dilestarikan

    ReplyDelete

Kicau Anak Bawang

Powered by Blogger.

Tulisan populer

Tamu Anak Bawang

Copyright © Komunitas Anak Bawang| Desain: Alie Poedjakusuma