Posted by : Anak Bawang Tuesday, 1 January 2013


Jas merah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. ~soekarno
Asal mula komunitas Anak Bawang adalah dari diselenggarakannya sebuah Seminar Permainan Tradisional oleh program studi Psikologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Animo peserta yang besar dan keinginan untuk terus melestarikan permainan tradisional akhirnya menggiring beberapa orang untuk berkumpul dan bermain bersama. 

Mulanya, hanya ada kegiatan di setiap Minggu pagi di Car Free Day Slamet Riyadi. Dengan membawa beberapa permainan tradisional, beberapa orang akan mengajak pengunjung untuk bermain. Mulai dari uding, dakon, dan egrang batok. Lagi-lagi, masyarakat terlihat sangat antusias. Para orang tua seakan diajak kembali ke masa lalu, mengenang masa kecilnya dan indahnya bermain permainan tradisional. Para anak-anak dan remaja seolah menemukan permainan baru yang mengasyikkan saat harus bertemu dengan kawan-kawan sebaya. 

Kumpulan orang-orang yang sebelumnya hanya bermain bersama, akhirnya memutuskan untuk menamai dirinya. Tersebutlah Komunitas Anak Bawang, dibentuk pada tanggal 10 November 2012 di kota Surakarta.

Dinamai Anak Bawang karena dalam setiap permainan tradisional, selalu ada anak kecil yang dianggap belum cukup umur dan disebut sebagai “pupuk bawang” atau dalam bahasa Indonesia adalah Anak Bawang. Anak Bawang selalu dianggap sebagai penggenap dalam permainan. Dia ikut bermain, tapi keberadaannya tidak diperhitungkan dalam permainan itu. Dia ada, tapi seperti tidak ada. Tapi, jangan remehkan si Anak Bawang ini. Pada mulanya, memang dia tidak dianggap karena belum cukup umur. Namun, seiring berjalan waktu, si Anak Bawang ini akan berkembang dan menjadi pemain utama dalam permainan itu.

Berangkat dari filosofi sederhana tersebut, komunitas ini menamakan diri sebagai Komunitas Anak Bawang. Mungkin, komunitas ini pada mulanya dianggap tidak ada. Namun, seiring berjalannya waktu si Anak Bawang ini banyak bertemu dengan khalayak. Langkah-langkah kecil yang semula hanya diketahui orang-orang di sekitarnya, telah menyebar melalui banyak cerita. Permainan tradisional yang mulanya telah menjadi kenangan generasi prateknologi, lambat laun berubah kedudukannya sebagai teman bermain anak-anak generasi teknologi. 

Anak-anak kembali mengenal kearifan lokal bangsanya, bahwa Indonesia itu kaya. Tidak hanya dari suku, bahasa, dan budayanya saja. Tapi, juga permainan tradisionalnya. Meskipun namanya tradisional, tetapi yang tradisional tidak selalu buruk dan yang modern pun tidak selamanya baik. Mari kembali mengenalkan kembali apa yang ditinggalkan nenek moyang untuk generasi ini. Mari kembali bermain permainan tradisional. 
Karena, aku bermain maka aku senang.

~salam hompimpah


surakarta, 11.12.13

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Kicau Anak Bawang

Powered by Blogger.

Tulisan populer

Tamu Anak Bawang

Copyright © Komunitas Anak Bawang| Desain: Alie Poedjakusuma