Posted by : Anak Bawang Sunday, 20 October 2013

Citizen6Surakarta: "Cublak-cublak suweng, suwenge teng gelenter, mambu ketundhung gudel, pak empo era-lere, sopo ngguyu ndhelikake, sir-sir pong dele kopong, sir-sir pong dele kopong, sir-sir pong dele kopong".

Cublak-cublak suweng, salah satu permainan tradisional Indonesia yang syarat makna dan mengandung filosofi cara mencari harta sejati atau kebahagiaan.

Cublak-cublak suweng artinya adalah tempat harta berharga, harta sejati. Suwenge teng gelenter artinya harta sejati tersebut berserakan. Harta sejati atau kebahagiaan berserakan dimana-mana, disekitar manusia. Mambu ketundhung gudel artinya, baunya harta sejati tersebut dituju oleh anak kerbau. Di sini maksudnya orang-orang bodoh mencari harta sejati (kebahagiaan) layaknya seekor anak kerbau. Penuh nafsu, ego, korupsi, dan keserakahan yang bertujuan pada kebahagiaan sejati.

Pak empo lera-lere artinya, bapak ompong menengok kanan-kiri. Orang-orang bodoh tersebut diibaratkan seperti orang tua ompong yang kebingungan. Meskipun ia memiliki harta melimpah, akan tetapi itu bukan harta sejati atau kebahagiaan sejati. Mereka kebingungan dan dikuasai oleh hawa nafsu dan keserakahannya sendiri.
Sopo ngguyu ndhelikake artinya, siapa yang tertawa, dia yang menyembunyikan. Maksudnya adalah barang siapa bijaksana, dialah yang menemukan tempat harta sejati. Dia adalah orang yang tersenyum dalam menjalani setiap keadaan yang terjadi pada dirinya.

Sir-sir pong dele kopong artinya hati nurani seperti kedelai kosong tanpa isi. Untuk mendapatkan harta sejati, dibutuhkan hati yang kosong, jauh dari serakah, ia harus rela melepaskan segala atribut duniawi, rendah hati, dan senantiasa memakai sir-nya atau hati nuraninya dalam setiap hal.

Makna sebait lagu cublak-cublak suweng sungguh luar biasa. Untuk mencari harta sejati atau kebahagiaan sejati, kita tidak bisa menggunakan hawa nafsu, keserakahan pribadi, tetapi menggunakan hati nurani. Tentunya masih banyak manfaat lain yang bisa diambil dari permainan tradisional.

Seperti kenapa dakon berumlah 14 lubang? Dan kenapa setiap pemain diberi masing-masing 7 lubang? Adakah yang pernah mempertanyakannya? Mungkinkah lubang-lubang itu menggambarkan hari-hari di setiap minggunya?

Permainan dakon, permainan yang terdiri dari lubang-lubang dan biji. Permainan ini mengajarkan bagaimana melewati fase-fase kehidupan. Hari demi hari, terus bekerja. Senin, selasa, rabu, kamis, jumat, dan sabtu. Namun jangan lupa menyisihkan tabungan di lubang paling ujung milik kita, hari minggu. Karena tabungan itu akan membawa kebahagiaan nantinya. Selain manfaat tersebut, dakon juga dapat digunakan sebagai media pembelajaran motorik bagi anak karena melatih anak untuk belajar mengambil biji-biji dakon serta meletekkannya satu per satu. Masih banyak manfaat lain yang bisa kita dapat dari permainan tradisional.

Melihat luar biasanya permainan tradisional, pantaskah ia dilupakan? Pantaskan ia tergerus zaman yang serba modern ini? Komunitas kami tergerak untuk melestarikan permainan tradisional. Kami ingin orang lain tidak melihat permainan tradisional sebagai sekedar bermain-main saja, tetapi juga mengenal potensi dalam pembelajaran berbagai hal kepada anak-anak.

Manfaat dari gerakan ini adalah pertama, mengembangkan fisik seperti bermain gobak sodor. Saat bermain permainan ini anak akan diajarkan gerakan otot kaki dan bola mata. Kedua, mengembangkan komunikasi dan sosialisasi seperti dalam permainan petak umpet (Delikan). Di sini anak akan belajar mengenal satu dan yang lainnya. Sedangkan yang ketiga adalah membuat bahagia. Inilah hal yang paling penting saat bermain permainan tradisional. Bisa kita lihat tawa lepas seorang anak ketika mereka bermain permainan tradisional. Semboyan untuk gerakan ini adalah "Aku Bermain Maka Aku Senang".

Apa yang terjadi jika seseorang bahagia? Ia akan melakukannya pekerjaannya dengan baik. Orang yang bahagia dia tidak akan mudah terserang penyakit. Orang yang bahagia akan menyebarkan energi yang positif ke orang lain dan menjadikan orang lain ikut bahagia.

Jika kita bayangkan ketika satu anak menyebarkan energi kebahagiaan kepada anak yang lain, kemudian dari tetangga ke tetangga yang lain, maka "Indonesia menjadi lebih baik". Jadi, pantaskah permainan tradisional terlupakan? (Anak Bawang/Mar)

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Kicau Anak Bawang

Powered by Blogger.

Tulisan populer

Tamu Anak Bawang

Copyright © Komunitas Anak Bawang| Desain: Alie Poedjakusuma